Blitar – Investasi penguatan kapasitas kader melalui pendidikan dan pelatihan kembali membuahkan hasil membanggakan. Sultan Ahmad Dafa, alumni Program Pelatihan Penyiaran Televisi yang diinisiasi Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Sidoarjo, berhasil meraih posisi Runner Up dalam AI Boot Camp Competition yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.
Pencapaian ini sekaligus menegaskan pentingnya literasi digital dan penguasaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bagi generasi muda Nahdliyin dalam menjalankan misi dakwah dan syiar Islam di era digital.
Regenerasi Cerdas: Dari Pelatihan hingga Kompetisi Nasional
Grand Final kompetisi yang diikuti sekitar 83 peserta dari berbagai lembaga di Jawa Timur ini berlangsung pada Sabtu, 7 Februari 2026, di Kampung Coklat, Kabupaten Blitar. Sultan Ahmad Dafa, putra Khoirum Maftuchah yang juga menjabat sebagai Bendahara 2 PC ISNU Sidoarjo, terpilih sebagai salah satu dari enam finalis terbaik yang diundang langsung ke lokasi untuk mengikuti tahap akhir kompetisi.
Sebelum memasuki babak final, seluruh peserta mengikuti rangkaian AI Boot Camp intensif yang dirancang khusus untuk membekali kader NU dengan keterampilan teknologi terkini. Pada hari pertama, materi difokuskan pada pengenalan dan praktik langsung berbagai aplikasi AI, termasuk ChatGPT, konversi teks ke video (text to video), dan transformasi gambar menjadi video (image to video).

Penguasaan Teknologi AI untuk Dakwah Kontemporer
Menurut Sultan Ahmad Dafa, metode image to video menjadi teknik yang paling aplikatif untuk diterapkan dalam aktivitas dakwah digital. “Prosesnya sangat sesuai dengan kebutuhan konten syiar kita. Sebagai contoh, saya mengunggah foto, kemudian memberikan prompt atau perintah sesuai konsep yang diinginkan. Bahkan background bangunan bisa dikreasikan menyerupai gedung PWNU Jawa Timur untuk memperkuat identitas organisasi,” jelasnya saat ditemui usai kompetisi.
Proses produksi konten AI dimulai dari tahap generate gambar, pemilihan berbagai opsi prompt yang tersedia, hingga penyesuaian teks secara bertahap. Durasi video dapat diatur mulai dari 5 hingga 8 detik, tergantung kebutuhan—apakah untuk dialog percakapan atau visualisasi gerakan tertentu.
Tidak hanya materi teknis semata, peserta juga mendapatkan sesi diskusi dan komunikasi pada hari kedua untuk membahas berbagai kendala yang muncul selama proses pembelajaran. Bagi Dafa, kegiatan semacam ini sangat strategis dalam menyiapkan generasi muda Nahdliyin yang melek teknologi dan siap berkontribusi di ruang digital.
“Visi panitia sangat jelas: mempersiapkan Generasi Z NU yang mampu menguasai AI. Bayangkan jika ribuan kader muda NU menguasai teknologi ini—dakwah dan syiar Islam akan jauh lebih masif dan efektif melalui media digital. Ini juga bagian dari kaderisasi kepemimpinan NU masa depan,” ungkapnya.
Presentasi Dadakan, Bekal Pelatihan ISNU Jadi Kunci Sukses
Pada babak Grand Final, mekanisme penilaian mengalami penyesuaian. Awalnya direncanakan sebagai tantangan praktik langsung (on the spot), namun karena keterbatasan waktu dan keterlambatan beberapa peserta, format diubah menjadi presentasi konsep karya dan penjelasan proses kreatif di baliknya.
Di sinilah pengalaman Sultan Ahmad Dafa mengikuti Pelatihan Penyiaran melalui PC ISNU Sidoarjo menjadi modal utama. Materi public speaking dan teknik pembacaan berita yang diperolehnya terbukti sangat efektif untuk mempresentasikan karya AI secara meyakinkan, meski dalam situasi yang tidak dipersiapkan sebelumnya.
“Alhamdulillah, berkat pelatihan dari PC ISNU Sidoarjo, saya bisa menyampaikan presentasi dengan percaya diri meskipun formatnya dadakan. Dan hasilnya, saya berhasil meraih posisi Runner Up,” tuturnya dengan penuh syukur.
Apresiasi Ketua ISNU Sidoarjo: Pelatihan Berdampak, Prestasi Mengharumkan

Menanggapi pencapaian ini, Ketua PC ISNU Sidoarjo, Dr. H. Sholehuddin, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya. Prestasi yang diraih kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Masangan Wetan ini dinilai tidak hanya mengharumkan nama pribadi, tetapi juga nama baik Sidoarjo dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo di kancah provinsi.
“Ini bukti konkret bahwa pelatihan yang dirancang dengan baik akan memberikan dampak jangka panjang. Public speaking dan kemampuan komunikasi yang diperoleh dalam Pelatihan Penyiaran menjadi pondasi kuat untuk berkompetisi dan berprestasi,” tegasnya.
Dr. Sholehuddin menegaskan komitmen PC ISNU Sidoarjo untuk terus menyelenggarakan program-program penguatan kapasitas kader, baik dalam bidang literasi digital, dakwah kontemporer, maupun pengembangan kepemimpinan. “Inilah yang kami sebut sebagai pelatihan berdampak—tidak hanya transfer pengetahuan, tetapi menghasilkan kader yang kompeten, percaya diri, dan siap berkontribusi nyata,” pungkasnya.
Keberhasilan Sultan Ahmad Dafa menjadi inspirasi sekaligus bukti bahwa investasi terhadap pendidikan dan pelatihan kader adalah strategi jitu dalam memperkuat eksistensi dan peran Nahdlatul Ulama di tengah dinamika zaman yang terus berubah.
