Sidoarjo — Kamis, 11 Desember
Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sidoarjo hadir dalam kegiatan Turba (turun ke bawah) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur yang digelar di Ballroom PCNU Sidoarjo, Kamis (18/12). Turba ini dihadiri langsung oleh Wakil Rois PWNU Jatim KH. Abd. Matin Djawahir serta Ketua PWNU Jatim KH. Abd. Hakim Mahfudz beserta jajaran pengurus wilayah lainnya.

Acara tersebut juga diikuti oleh PCNU Sidoarjo beserta seluruh badan otonom dan lembaga, serta ketua dan perwakilan dari PCNU Kota Surabaya, Kota Mojokerto, dan Kabupaten Mojokerto. Suasana forum berlangsung hangat, penuh kekeluargaan, dan mencerminkan kuatnya spirit konsolidasi antardaerah.
Ketua PCNU Sidoarjo KH. Zainal Abidin dalam sambutannya menyampaikan apresiasi dan penghargaan atas kehadiran PWNU Jatim dan beberapa PCNU Kabupaten/Kota di Sidoarjo. Hal ini sebagai bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan semangat pergerakan jamiyah. Selain menyampaikan permohonan maaf juga ia paparkan capaian empat program unggulan PCNU, Banom dan lembaga.

Hal senada disampaikan oleh Ketua PWNU Jatim KH. Abd. Hakim Mahfudz yang menegaskan pentingnya menjaga soliditas organisasi di tengah berbagai tantangan kebangsaan. Karena itu silaturrahim ini menjadi kekuatan NU. “Silaturahim dan turba itu lebih penting, meski tidak terukur dan tidak ada di AD/ART, karena para ulama memang mementingkan keakraban, mementingkan bagaimana menyatukan hati agar nggak pecah, bagaimana ada keakraban dalam hubungan batin,” ujar Pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang tersebut.
Sementara itu, Taujihat Wakil Rois dalam arahannya menekankan perlunya memperkuat peran ulama dan pengurus NU dalam membimbing masyarakat, khususnya di tingkat akar rumput.

ISNU Sidoarjo hadir melalui Ketua PC ISNU Sidoarjo, Dr. H. Sholehuddin, serta Wakil Bendahara Khoirum Maftuhah. Dr. Sholehuddin menyambut baik kegiatan Turba PWNU Jatim ini. Menurutnya, tradisi Turba merupakan langkah baru yang positif sebagai ajang konsolidasi jamiyah dan mempererat sinergi antara pengurus wilayah dan cabang. “Ini tradisi baru yang sangat baik. Turba seperti ini menjadi sarana efektif untuk konsolidasi jamiyah sekaligus memperkuat kebersamaan di lingkungan NU,” ujar sekretaris BPP UNUSIDA itu.
Kegiatan diakhiri dengan ramah tamah tamah khas santri, makan bersama secara ‘keroyokan’ (kenduri). Bedanya, jika di pesantren nasi berlauk tahu dan terong ‘gosong’, kali ini naik level nasi mandi khas Arab. Suasana ini menambah keakraban karena tidak ada sekat antar pengurus.


