Di Depan Kader, Ketua PC ISNU Sidoarjo Kupas Ekoteologi dan Moderasi Beragama

Ketua PC ISNU Sidoarjo, Dr. H. Sholehuddin, menjadi narasumber utama dalam Tasywirul Afkar PAC ISNU Krian

SIDOARJO — Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Krian sukses menggelar diskusi rutin dan kajian akademik bertajuk Tasywirul Afkar pada Ahad, 21 Juni 2026. Kegiatan yang berlangsung di kediaman Ketua PAC ISNU Krian, Gus Durrul Izza, tersebut dihadiri puluhan kader, praktisi, serta akademisi muda Nahdlatul Ulama.

Hadir sebagai narasumber utama, Ketua Pimpinan Cabang (PC) ISNU Sidoarjo, Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I., yang menyampaikan materi bertema “Ekoteologi dan Moderasi Beragama: Ikhtiar Merawat Lingkungan dan Kemanusiaan.”

Krisis Ekologi Berakar pada Krisis Spiritual

Dalam pemaparannya, Dr. H. Sholehuddin menjelaskan bahwa krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan perubahan iklim atau kerusakan alam. Menurutnya, berbagai fenomena seperti menyusutnya kawasan hutan, menurunnya daya dukung lingkungan, hingga eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkendali merupakan gejala dari persoalan yang lebih mendasar.

“Krisis ekologi sesungguhnya adalah krisis kemanusiaan, dan akar terdalamnya adalah krisis spiritual,” tegasnya.

Mengacu pada teori gunung es serta pemikiran filsuf Muslim Sayyed Hossein Nasr, ia menjelaskan bahwa kerusakan alam yang tampak hanyalah bagian permukaan. Sementara itu, akar persoalan sesungguhnya adalah kerusakan cara pandang manusia terhadap alam.

Menurutnya, keserakahan, hilangnya nilai kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin), serta paradigma sekuler yang memandang alam hanya sebagai komoditas ekonomi telah mendorong eksploitasi tanpa batas terhadap ciptaan Allah SWT.

Manusia sebagai Khalifah, Bukan Pemilik Mutlak

Sholehuddin kemudian menguraikan paradigma ekoteologi yang menempatkan hubungan harmonis antara Allah SWT sebagai Pencipta, manusia sebagai khalifah, dan alam sebagai amanah sekaligus ayat-ayat kauniyah.

Ia menegaskan bahwa manusia memikul dua mandat utama sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

Pertama, mandat pengelolaan sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Dalam ayat tersebut manusia diangkat sebagai khalifah fil ardh, yaitu pengelola bumi, bukan pemilik mutlaknya.

Kedua, mandat pembangunan sebagaimana terdapat dalam QS. Hud ayat 61. Allah SWT menciptakan manusia dari bumi dan memerintahkannya untuk memakmurkan, bukan merusak.

“Merusak keseimbangan alam merupakan bentuk kemaksiatan yang nyata. Al-Qur’an telah mengingatkan dalam QS. Ar-Rum ayat 41 bahwa kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat ulah tangan manusia sendiri. Karena itu, merawat lingkungan bukan sekadar etika sosial, melainkan bagian dari ibadah,” jelasnya.

Moderasi Beragama sebagai Jalan Tengah Merawat Semesta

Dalam kesempatan tersebut, Sholehuddin juga mengaitkan konsep ekoteologi dengan Moderasi Beragama (wasathiyyah). Ia menegaskan bahwa sikap moderat tidak hanya diterapkan dalam kehidupan sosial maupun praktik keagamaan, tetapi juga dalam hubungan manusia dengan alam.

Ia menjelaskan adanya dua kutub ekstrem yang perlu dihindari.

Pertama, ekstrem konservatif, yakni cara pandang yang mengabaikan tanggung jawab merawat bumi dan hanya berorientasi pada urusan akhirat secara sempit.

Kedua, ekstrem eksploitatif, yakni pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pihak yang bebas mengeksploitasi alam demi keuntungan ekonomi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan.

“Wasathiyyah menjadi jalan tengah yang menyeimbangkan kebutuhan pembangunan dengan tanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan. Kesejahteraan manusia harus berjalan beriringan dengan keberlangsungan alam bagi generasi mendatang,” ujarnya.

Dr. H. Sholehuddin bersama Dr. Chabib Mustofa, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya
Dr. H. Sholehuddin bersama Dr. Chabib Mustofa, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya

Mendorong Aksi Nyata Melalui Gerakan “Jihad Green”

Agar gagasan ekoteologi tidak berhenti sebagai wacana, Ketua PC ISNU Sidoarjo mengajak seluruh kader untuk menerjemahkannya ke dalam aksi nyata melalui tiga level gerakan.

  1. Level Hulu (Kebijakan Institusional), yakni mendorong lahirnya kebijakan yang berpihak pada lingkungan, termasuk integrasi materi ekoteologi dalam dunia pendidikan.
  2. Level Tengah (Budaya dan Kampanye Sosial), yaitu membangun gerakan edukasi dan budaya ramah lingkungan yang bernilai ibadah.
  3. Level Hilir (Perubahan Gaya Hidup), yaitu membiasakan perilaku menjaga lingkungan karena dorongan iman, bukan semata-mata karena aturan hukum.

Sebagai penutup materi, Sholehuddin mengajak seluruh kader ISNU membangun empat pilar gaya hidup ekologis berbasis keimanan, yaitu:

  • menerapkan gaya hidup sederhana dan menghindari perilaku konsumtif;
  • membangun pola konsumsi serta produksi yang berkelanjutan;
  • mengelola sampah secara bertanggung jawab demi menjaga kebersihan lingkungan;
  • aktif melakukan penghijauan melalui gerakan menanam dan merawat pohon sebagai bentuk sedekah ekologis yang manfaatnya terus mengalir.

Apresiasi dan Komitmen PAC ISNU Krian

Ketua PAC ISNU Krian, Gus Durrul Izza, menyampaikan apresiasi atas materi yang disampaikan Ketua PC ISNU Sidoarjo. Menurutnya, kajian tersebut memberikan perspektif baru mengenai peran strategis sarjana Nahdlatul Ulama dalam menjawab persoalan lingkungan.

“Kajian ini membuka mata kita bahwa tugas seorang sarjana NU tidak hanya membaca kitab dan teks akademik, tetapi juga membaca realitas kerusakan bumi serta terlibat langsung dalam upaya merawatnya. Insyaallah, PAC ISNU Krian berkomitmen mengawal gerakan ‘Jihad Green’ hingga tingkat kecamatan dan ranting,” ungkapnya.

Selain Dr. H. Sholehuddin, kegiatan tersebut juga menghadirkan Dr. Chabib Mustofa, dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, yang membahas tema serupa dari perspektif tasawuf dan budaya.

Dalam pemaparannya, ia mengajak kader ISNU membangun kesadaran ekologis melalui gerakan sederhana namun berdampak luas.

“Satu Sarjana, Satu Pohon,” pungkasnya.

Kajian Tasywirul Afkar ini menjadi bagian dari ikhtiar ISNU dalam memperkuat tradisi intelektual sekaligus meneguhkan komitmen organisasi terhadap penguatan moderasi beragama, pelestarian lingkungan, dan pembangunan peradaban yang berkelanjutan.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

ABOUT AUTHOR
ISNU SIDOARJO

ISNU Sidoarjo adalah wadah para sarjana NU yang berkomitmen pada ilmu, dakwah, dan pembangunan umat berbasis keislaman dan keindonesiaan

ADVERTISEMENT

Get fresh updates
about my life in your inbox

Our gallery