KRIAN, SIDOARJO – Pimpinan Anak Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PAC ISNU) Kecamatan Krian menggelar forum diskusi mendalam Tasywirul Afkar pada hari Ahad (21/06/2026) yang bertepatan dengan 5 Muharram 1448 H. Bertempat di Krian, forum ilmiah ini menghadirkan Ketua Pengurus Cabang (PC) ISNU Kabupaten Sidoarjo, Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I, sebagai pemateri utama untuk mengupas tuntas keterkaitan antara ekoteologi (teologi lingkungan) dan moderasi beragama.
Acara diawali dengan khidmat melalui ibadah sholat maghrib berjama’ah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil, Istighotsah, dan Sholawat bersama seluruh kader sarjana NU Krian. Sholawat diiringi Tim Banjari dari santri Ponpes Perumahan Al Hidayah yang juga diasuh ketua ISNU Krian Gus Durrul Izza Al Fatawi

Ikhtiar Memadukan Amaliah Tradisi dan Diskusi Afkar
Dalam khutbah iftitahnya, Ketua PAC ISNU Krian, Bapak Durrul Izza Al-Fatawi, menegaskan bahwa kegiatan Tasywirul Afkar ini merupakan wujud ikhtiar nyata dari seluruh jajaran pengurus ISNU di tingkat kecamatan.
“Kami ingin selalu mengkolaborasikan nilai-nilai spiritualitas amaliah NU seperti Tahlil, Istighotsah, dan Sholawat dengan kekuatan Afkar yang diwujudkan melalui ruang diskusi kajian ilmiah,” tutur penulis Buku Ngaji Tani dan Hikmah Cinta itu.
Mengurai Akar Masalah Ekoteologi dan Wahabi Lingkungan
Memasuki sesi kajian formal yang dipandu oleh moderator Dr. Muhammad Fatih Rusydi Syadzili, Ketua PC ISNU Sidoarjo Dr. H. Sholehuddin, M.Pd.I memantik diskusi dengan mengurai akar masalah dalam tema ekoteologi. Beliau menekankan pentingnya memahami posisi kemanusiaan, kebangsaan, dan keagamaan dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim.
Dr. Sholehuddin menyinggung istilah “wahabi lingkungan” yang pernah disampaikan oleh tokoh PBNU. Istilah ini merujuk pada pandangan bahwa manusia tidak perlu bertindak terlalu protektif secara berlebihan terhadap lingkungan, sebab alam memiliki mekanisme tersendiri untuk melakukan pemulihan dan perubahan dalam dirinya. Pun begitu tidak boleh berlebihan dalam memanfaatkan lingkungan.
Lebih lanjut, ia memberikan contoh riil isu ekoteologi kontemporer, seperti polemik pemutaran film Pesta Babi yang mengindikasikan adanya miskomunikasi pengelolaan alam antara pengelola dan warga lokal. Ia juga menyoroti mengapa pengelolaan lingkungan di Papua yang disorot, padahal mengutip pernyataan Menteri Pertanian tidak lebih banyak dari Kalimantan dan Sumatra, karena Papua lebih sensitif dan seksi untuk dijadikan isu. Hal ini perlu disikapi secara bijak.
Fenomena eksklusivitas ini sudah merambah ke generasi muslim baru. Mereka yang menjadikan simbol-simbol keagamaan di ruang publik sebagai wujud ekspresi ideologis. Meski demikian, menurutnya ada juga yang sekadar asesori dan modis. Menanggapi hal tersebut, moderator Dr. Fatih Rusydi menambahkan bahwa di wilayah regional, keberadaan foto ulama besar seperti KH. Hamid Pasuruan di rumah-rumah warga lokal Pasuruan juga merupakan bagian nyata dari perwujudan identitas ideologis tersebut.

Konsep Lita’arafu dan Pengelolaan Alam Tradisional
Diskusi juga menjawab pertanyaan mengapa eksploitasi alam begitu marak terjadi pada kehidupan dewasa ini dibandingkan dengan era dahulu. Menurut Widyaiswara BDK Surabaya itu, banyak terjadi kesalahan memaknai Khalifah seolah khalifah sebagai penguasa yang bisa menguasai sesuai seleranya. “Hal ini melahirkan pandangan hubungan manusia dengan alam seperti subyek-obyek. Padahal, seharusnya hubungan keduanya adalah hubungan kemitraan”, ujarnya.
Terkait moderasi beragama lahir atas dasar perbedaan sebagai sunnatullah. Maka, konsep lita’arafu (saling mengenal) kata Sekretaris Komisi Fatwa MUI Sidoarjo sejatinya harus meluas pada pengenalan budaya yang melahirkan rasa saling menghormati dan menyesuaikan diri antar manusia.
Dalam konteks ini, Moderasi Beragama (Al-Wasathiyah) dipandang sebagai cara pandang berkeadilan yang lurus (shiratal mustaqim) untuk saling toleran tanpa memandang perbedaan iman. Contoh nyata toleransi kemanusiaan ini adalah kerelaan umat Katolik di Malang yang mewakafkan tanah dan musalla untuk ibadah umat Islam. Sejatinya prinsip yang dibangun, adalah nilai universal seperti kemanusiaan, kemaslahatan umum serta cinta kasih dan kedamaian.
Terkait pengelolaan alam untuk kemaslahatan masyarakat luas, ekoteologi dapat dijalankan lewat pendekatan tradisional yang berdampak kolektif. Dr. Muhammad Fatih Rusydi Syadzili selaku moderator memberikan contoh kebijakan ekstrem mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti, yang membakar kapal asing pencuri ikan. Langkah berani tersebut dinilai sebagai bentuk penegakan ekoteologi demi melindungi ekosistem laut Indonesia dari eksploitasi besar-besaran.
Forum ini mengingatkan bahwa hubungan harmonis antara Tuhan, manusia, dan alam memerlukan keselarasan pemahaman terhadap pengarang, teks, dan konteks zaman. Maka, perlu adanya kesadaran bahwa, manusia dan alam sebagai perwujudan kuasa (tajalliyat) Allah di muka bumi. Perlakuan manusia terhadap alam dan sesama secara tidak langsung sama dengan perlakuan terhadap Tuhannya.
Pendekatan Spiritual Tarekat Satariyah dan Aksi Nyata ISNU Krian
Turut memberikan bobot pandangan akademis dalam forum ini, Dr. Chabib Mustofa memaparkan implementasi ekoteologi berbasis kearifan lokal melalui praktik spiritual Wirid Satariyah. Menurutnya, para pengamal tarekat ini melakukan pelestarian alam melalui pendekatan spiritual yang mendalam.
“Para pengamal wirid ini memposisikan tanaman yang mereka tanam sebagai makhluk yang sedang berdzikir kepada Allah SWT. Sehingga, aktivitas menanam dan merawat tumbuhan secara otomatis menjadi bagian dari manifestasi pelestarian alam religius,” urai Dosen UINSA tersebut..
Sebagai bentuk tindak lanjut (action plan) dari pemikiran ekoteologi spiritual tersebut, Dr. Chabib Mustofa mengusulkan sebuah gerakan lingkungan konkret yang dapat diinisiasi oleh PAC ISNU Krian, yaitu program gerakan aksi “Satu Anggota, Menanam Satu Pohon” untuk seluruh kader sarjana di Krian.
(Fatih Rusydi)
