Mengurai Gunung Es Sosial: Mengatasi Miras, Prostitusi, dan Narkoba melalui Pendekatan Sistemik U-Process

Dr. H. Sholehuddin menjelaskan pendekatan sistemik untuk mengatasi miras, narkoba, dan prostitusi melalui U-Process.

Oleh: Dr. H. Sholehuddin, S.Ag., M.Pd.I.
Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya | Ketua PC ISNU Sidoarjo | Sekretaris Komisi Fatwa DP MUI Sidoarjo

Pendahuluan

Belakangan ini Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, dan organisasi kemasyarakatan semakin gencar memerangi berbagai penyakit sosial, khususnya minuman keras (miras), prostitusi, dan penyalahgunaan narkoba. Penegakan hukum melalui razia dan operasi menjadi langkah yang terus dilakukan sebagai upaya menekan berbagai persoalan tersebut.

Langkah aparat penegak hukum patut diapresiasi, terlebih setelah munculnya aspirasi masyarakat, termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sidoarjo dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo, yang mendorong penanganan lebih serius terhadap persoalan tersebut.

Namun demikian, muncul pertanyaan mendasar: mengapa persoalan miras, prostitusi, narkoba, bahkan penyebaran HIV/AIDS terus berulang meskipun berbagai operasi penertiban telah dilakukan?

Jawabannya sederhana. Selama persoalan tersebut hanya dipandang sebagai masalah moral individu atau kriminalitas semata, maka solusi yang dihasilkan pun hanya menyentuh permukaan.

Untuk memahami akar persoalan secara utuh, kita dapat menggunakan dua pendekatan berpikir sistemik, yaitu Iceberg Theory dari Peter Senge dan U-Process yang dikembangkan Otto Scharmer. Kedua pendekatan ini membantu kita melihat persoalan sosial secara lebih mendalam sekaligus menawarkan transformasi yang berkelanjutan.


Memahami Persoalan melalui Teori Gunung Es Peter Senge

Dalam bukunya The Fifth Discipline, Peter Senge menjelaskan bahwa berbagai persoalan yang tampak di permukaan hanyalah bagian kecil dari keseluruhan sistem, layaknya puncak gunung es. Justru bagian terbesar yang menentukan persoalan berada jauh di bawah permukaan.

1. Peristiwa (Events): Apa yang Terlihat?

Inilah bagian yang paling mudah diamati dan sering menjadi sorotan media.

Contohnya:

  • Razia penjual minuman keras.
  • Penggerebekan praktik prostitusi, baik konvensional maupun daring.
  • Penangkapan pengedar dan pengguna narkoba.
  • Penyitaan barang bukti miras.
  • Meningkatnya angka HIV/AIDS berdasarkan data fasilitas kesehatan.
  • Protes masyarakat terhadap maraknya peredaran miras.

Semua kejadian tersebut hanyalah gejala yang tampak.


2. Pola Perilaku (Patterns): Apa yang Terus Berulang?

Jika diamati dalam rentang waktu yang panjang, akan terlihat pola yang terus berulang.

Di antaranya:

  • Konsumsi miras dan narkoba sering menjadi pelarian dari tekanan hidup.
  • Prostitusi bergeser dari lokalisasi menuju platform digital.
  • Penularan HIV/AIDS mengikuti pola perilaku seksual berisiko dan penggunaan jarum suntik bergantian.
  • Munculnya warung kopi remang-remang yang menjadi ruang berkembangnya perilaku menyimpang.
  • Menurunnya pengawasan keluarga terhadap anak akibat perubahan pola kehidupan dan pengaruh media sosial.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa persoalan sosial tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi berkembang melalui pola yang terus berulang.


3. Struktur Sistemik (Systemic Structures): Apa Penyebabnya?

Di sinilah akar persoalan mulai terlihat.

Berbagai perilaku negatif tersebut lahir dari sistem sosial yang belum sehat, antara lain:

Ekonomi

Kemiskinan struktural dan terbatasnya lapangan pekerjaan formal mendorong sebagian masyarakat terjerumus ke dalam praktik prostitusi, perdagangan miras, maupun jaringan narkoba.

Pendidikan dan Kebijakan

Masih rendahnya edukasi kesehatan reproduksi, literasi digital, serta lemahnya penegakan hukum terhadap bandar narkoba, perdagangan manusia, dan jaringan distribusi miras membuat persoalan sulit diselesaikan.

Keluarga dan Lingkungan Sosial

Kurangnya perhatian orang tua, lemahnya fungsi keluarga, serta sikap apatis masyarakat menyebabkan remaja lebih rentan terhadap pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba.

Kesehatan

Akses terhadap layanan kesehatan mental, konseling psikologis, serta layanan skrining HIV yang ramah dan bebas stigma masih belum merata.

Budaya Konsumerisme

Budaya instan, hedonisme, dan objektifikasi tubuh manusia mendorong lahirnya perilaku konsumtif yang menjadikan seks, miras, dan narkoba sebagai komoditas maupun pelarian dari berbagai persoalan hidup.


4. Model Mental (Mental Models): Akar Persoalan yang Paling Dalam

Lapisan terdalam gunung es adalah cara berpikir masyarakat.

Beberapa model mental yang masih berkembang antara lain:

  • ODHIV (Orang dengan HIV) maupun pekerja seks dipandang hanya sebagai pelaku dosa, bukan sebagai manusia yang membutuhkan pertolongan.
  • Persoalan sosial dianggap urusan pribadi selama tidak terjadi di lingkungan sendiri.
  • Miras, narkoba, dan prostitusi dianggap isu sensitif sehingga banyak pihak memilih diam daripada mencari solusi bersama.

Cara berpikir seperti inilah yang justru memperpanjang rantai persoalan.


Solusi melalui Pendekatan U-Process Otto Scharmer

Memahami akar persoalan belum cukup. Dibutuhkan transformasi sistem yang mampu mengubah cara berpikir sekaligus cara bertindak masyarakat.

Pendekatan U-Process yang dikembangkan Otto Scharmer menawarkan tiga tahapan penting.

1. Seeing dan Sensing: Melihat serta Merasakan

Perubahan tidak boleh lahir hanya dari ruang rapat atau balik meja birokrasi.

Pemerintah, tokoh agama, akademisi, aparat, dan masyarakat harus turun langsung ke lapangan.

Mereka perlu mendengarkan:

  • kisah para korban narkoba,
  • keluarga korban miras oplosan,
  • penyintas HIV/AIDS,
  • perempuan yang terjebak prostitusi,
  • serta berbagai kelompok rentan lainnya.

Pendekatan ini mengajak semua pihak untuk menunda penghakiman dan memahami realitas secara objektif.


2. Presencing: Refleksi Mendalam

Tahap ini merupakan inti dari U-Process.

Semua pihak diajak bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apa kontribusi saya atau sistem yang saya jalankan terhadap munculnya persoalan ini?”

Pada tahap ini:

  • Tokoh agama menyadari bahwa ceramah yang hanya berisi hukuman dan celaan sering kali menjauhkan korban dari jalan pemulihan.
  • Pemerintah menyadari bahwa penegakan hukum tanpa solusi ekonomi hanya memindahkan persoalan dari jalanan ke ruang digital.
  • Masyarakat menyadari pentingnya membangun kepedulian sosial daripada sekadar menyalahkan.

Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi perubahan.


3. Co-Creating dan Prototyping: Membangun Solusi Bersama

Setelah memiliki perspektif baru, berbagai pihak mulai membangun solusi yang dapat diuji dan dikembangkan.

Penguatan Ekonomi

Penanganan prostitusi tidak cukup hanya dengan menutup lokasi. Mantan pekerja seks perlu memperoleh pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, akses permodalan, hingga benar-benar mandiri secara ekonomi.

Edukasi dan Pendampingan

Penanggulangan HIV/AIDS harus mengedepankan pendekatan ilmiah, bukan stigma.

Sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter, literasi digital, dan edukasi kesehatan reproduksi agar generasi muda memiliki daya tahan terhadap pengaruh negatif.

Satgas Berbasis Komunitas

Setiap desa dan kelurahan perlu memiliki ruang aman (safe space) berupa pusat konseling keluarga, layanan kesehatan mental, serta pendampingan sosial sehingga masyarakat memiliki tempat mencari solusi sebelum terjerumus pada miras maupun narkoba.


Penutup

Persoalan miras, narkoba, prostitusi, dan HIV/AIDS sejatinya hanyalah gejala yang tampak di permukaan. Di baliknya terdapat persoalan ekonomi, pendidikan, keluarga, budaya, hingga cara berpikir masyarakat yang saling berkaitan.

Melalui Teori Gunung Es Peter Senge, kita diajak melihat akar persoalan, bukan sekadar gejalanya. Sementara U-Process Otto Scharmer mengajarkan bahwa perubahan sejati hanya dapat lahir melalui proses mendengarkan, refleksi, kolaborasi, dan penciptaan solusi bersama.

Dengan demikian, penyelesaian penyakit sosial tidak cukup hanya mengandalkan razia, hukuman, atau penindakan hukum semata. Solusi yang berkelanjutan memerlukan regulasi yang adil, pendidikan yang membebaskan, pemberdayaan ekonomi, layanan kesehatan yang inklusif, serta empati yang memanusiakan setiap manusia.

Inilah jalan menuju transformasi sosial yang tidak hanya memadamkan api di permukaan, tetapi juga memperbaiki akar persoalan dalam tubuh masyarakat.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Leave a Reply

ABOUT AUTHOR
ISNU SIDOARJO

ISNU Sidoarjo adalah wadah para sarjana NU yang berkomitmen pada ilmu, dakwah, dan pembangunan umat berbasis keislaman dan keindonesiaan

ADVERTISEMENT

Get fresh updates
about my life in your inbox

Our gallery