KRIAN, SIDOARJO – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kecamatan Krian sukses menggelar forum ilmiah melalui Majelis Taswirul Afkar pada Sabtu malam, 8 Agustus 2026. Kegiatan kali ini dikemas dalam bentuk bedah buku “Tadabbur Al-Qur’an”, karya akademisi dan dosen Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) sekaligus penulis nasional, Dr. Arif Budiono, Lc., MA., M.H.I.
Kegiatan yang berlangsung di kediaman Ghulam Nizar Ali, S.Pd., Gr., Perum Kasih Regency, Krian, Sidoarjo, tersebut dihadiri jajaran pembina, pengurus, serta puluhan kader intelektual Nahdliyin lintas sektor. Acara dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dan berlangsung hingga selesai.
Untuk membedah isi buku secara kritis dan objektif, panitia menghadirkan Ustaz Hakam Al-Ma’mun, M.Ag., dosen Sekolah Tinggi Islam Al-Amanah (STIA) Junwangi Krian, sebagai pembanding sekaligus pembedah utama dalam forum literasi tersebut.
Memahami Kisah Al-Qur’an: Bukan Sekadar Catatan Sejarah
Dalam sesi pemaparannya, Dr. Arif Budiono mengulas secara mendalam perbedaan antara qashash atau kisah-kisah dalam Al-Qur’an dengan catatan sejarah konvensional.
Menurutnya, narasi Al-Qur’an memiliki karakter dan tujuan yang berbeda. Penyajiannya tidak semata-mata berorientasi pada urutan kronologis peristiwa ataupun identitas tokoh, tetapi memiliki pesan dan tujuan yang lebih mendalam bagi kehidupan manusia.
“Hal yang jauh lebih esensial dari narasi Al-Qur’an adalah ibrah (pelajaran moral) dan hikmah mendalam di balik peristiwa tersebut. Kisah Al-Qur’an tidak boleh mandek sebagai romantisasi masa lalu, melainkan harus bertransformasi menjadi kompas kehidupan yang relevan bagi peradaban manusia modern di era digital,” tutur Dr. Arif Budiono.
Pandangan tersebut mengajak pembaca Al-Qur’an untuk tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa yang terjadi pada masa lalu, tetapi juga menggali pesan, hikmah, dan nilai kehidupan yang dapat diterapkan dalam konteks kekinian.
Kisah Al-Qur’an sebagai Penguat Dakwah Nabi
Melengkapi penjelasan penulis, Ustaz Hakam Al-Ma’mun memberikan perspektif sosiologis dan historis mengenai fungsi kisah-kisah dalam Al-Qur’an.
Menurutnya, ayat-ayat yang memuat kisah juga memiliki fungsi penguatan psikologis bagi Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi berbagai tantangan dan penolakan selama menjalankan dakwah.
Ia menjelaskan bahwa kisah-kisah tersebut dapat dipahami sebagai bentuk tasliyah atau penghiburan sekaligus penguatan hati Nabi Muhammad SAW.
“Narasi sejarah masa lalu yang diabadikan dalam Al-Qur’an memberikan pasokan energi keteguhan, penghiburan spiritual, sekaligus peta panduan strategis dalam menghadapi tantangan dakwah di setiap zaman,” imbuh dosen STIA Al-Amanah Krian tersebut.
Dengan perspektif tersebut, kisah Al-Qur’an tidak hanya memiliki dimensi historis, tetapi juga mengandung pesan spiritual dan strategi menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Taswirul Afkar sebagai Ruang Intelektual Kader NU
Ketua PAC ISNU Krian, Gus Izza, dalam sambutannya menegaskan komitmen organisasi untuk menghidupkan tradisi intelektual melalui Majelis Taswirul Afkar.
Ia berharap forum tersebut dapat menjadi ruang bertemunya gagasan, ilmu pengetahuan, dan pengalaman para sarjana Nahdlatul Ulama di Krian.
Menurutnya, Taswirul Afkar diharapkan mampu berkembang menjadi wadah penguatan spiritual sekaligus laboratorium gagasan yang menghasilkan karya dan gerakan nyata.
“Melalui wadah Taswirul Afkar ini, kita mendorong para cendekiawan dan sarjana NU tidak sekadar jago berwacana atau berdiskusi. ISNU Krian berkomitmen penuh memfasilitasi kader agar mampu melahirkan karya nyata, riset, serta buku-buku ilmiah yang membawa kemaslahatan bagi umat sekaligus membesarkan jam’iyah Nahdlatul Ulama,” tegas Gus Izza di hadapan para peserta.
Komitmen tersebut menempatkan tradisi literasi dan intelektual sebagai bagian penting dari pengembangan kader ISNU, khususnya dalam menghadapi tantangan masyarakat yang semakin kompleks.
Bedah Buku Tadabbur Al-Qur’an Perkuat Tradisi Literasi
Kegiatan bedah buku “Tadabbur Al-Qur’an” berlangsung secara interaktif dan dinamis. Para peserta terlibat dalam sesi tanya jawab dan diskusi mengenai makna kisah-kisah Al-Qur’an serta relevansinya dengan kehidupan masyarakat masa kini.
Forum tersebut tidak hanya menjadi ruang untuk membahas isi sebuah buku, tetapi juga menjadi sarana memperkuat tradisi literasi, konsolidasi pemikiran, dan silaturahmi akademik di lingkungan keluarga besar PAC ISNU Kecamatan Krian.
Melalui kegiatan semacam ini, ISNU Krian berupaya membangun budaya intelektual yang tidak berhenti pada diskusi, tetapi diarahkan untuk menghasilkan gagasan, penelitian, dan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kegiatan bedah buku tersebut sekaligus menegaskan pentingnya menghadirkan kembali tradisi membaca, berdiskusi, dan melakukan tadabbur sebagai bagian dari penguatan kapasitas intelektual kader Nahdlatul Ulama di tengah perkembangan zaman.
(Fatih Rusydi)
